Pernahkan kau rasakan cinta? Tentu
saja. Cinta adalah bahasa tanpa rupa yang hadir tanpa terasa namun tak
terpungkiri kalau itu ada. tapi pernahkan kau rasakan sakitnya cinta? Rasa
sakit yang tak mampu ku terjemahkan dalam bahasa apapun, tak mampu ku hitung
dengan rumus apapun. Aku menyukainya. Memujanya. Namun apa yang mampu ku
lakukan untuknya? Tak ada. Aku hanya mampu memandanginya, melihat punggungnya
dari jauh. Jika kau bilang aku ini pengecut, ya ku akui aku memang pengecut,
aku terlalu lemah untuk bisa menunjukkan bahwa aku ini ada. Aku merasa begitu
kecil dihadapannya, jurang yang membentang begitu lebar dan nyaliku terlalu
kecil untuk dapat menyeberanginya. Aku hanya hidup dalam dunia angan dan
khayal. Berharap kau mau melirikku meski hanya sepenggal helaan napas. Mungkin
aku adalah manusia paling pesimis di dunia ini, aku hanya mampu melihat dari
tempat sunyi di pojok ruangan yang gelap dan suram ini, tanpa berani melangkah
walau hanya sejenggkalpun. Setiap hembusan napas, setiap titik udara yang
mengalir keparu-paru terasa begitu sesak saat kedua mata elang yang mengagumkan
itu tanpa sengaja bertemu kedua bola mataku. Terkadang, aku bertanya apakah ini
memang takdir Tuhan, mengapa Tuhan menciptakan begitu banyak perbedaan yang
membentang diantara aku dan dia, dan kenapa ku tak punya daya appun untuk
membangun sebuah jembatan untuk menyeberangi ribuan perbedaan yang tercipta. Tuhan
bilakah boleh aku berharap, adalah sebuah harapan yang nyata, tentang sebuah
rasa, yang mengalir tanpa ikatan syarat ataupun paksaan. Cinta yang datang dari
sebuah ketulusan. Dan setiap detik yang kulalui semakin meyakinkanku bahwa
matahariku terlalu jauh untuk dapat kuraih…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar