Rabu, 20 Agustus 2014

sebait puisi



Ini kisah tentang sebuah rasaku yg hadir perlahan seiring kekagumanku akan sosoknya, dia yang bangga akan agamanya, cinta pada nabinya dan selalu taat pada Tuhannya. Dia hanya seorang remaja biasa yang dalam balutan putih abu-abu tapi mampu memberikan kesejukan batin kepada semua manusia yang disekitarnya. Aku mencintainya dalam setiap helaan nafas. Hanya kepada dia mata ini terfokus seakan duniaku berhenti tuk berputar.
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan aku hidup bersama angan untuk bisa merajut rasa bersama dia. Hari demi hari kulalui hanya dengan memandangnya. Setiap pagi aku duduk di depan kelas hanya untuk melihatnya datang dan masuk ke kelas sebelah, istirahat aku menjadi orang paling bersemangat untuk ke kantin agar bisa makan bersamanya walau dalam meja yang saling berjauhan, dan aku tak akan pernah mau meninggalkan sekolah sebelum aku melihatmu keluar melewati gerbang merah di samping pos satpam itu.
Aku hanya sesosok perempuan yang tak lebih ataupun kurang, aku biasa saja hingga tak sekalipun matanya mau menatapku dalam arti lebih.
Sampai suatu hari hati ini tergerak untuk maju dan mencoba untuk mendapatkan lebih dari sekedar cinta sepihak. Ku kumpulkan tekat untuk memberikan sebuah representasi rasa yang ku punya dalam sewujud benda. Ku pilih sebuah al qur’an berharap setiap lantunan ayat yang kau baca darinya akan membawa anganku untuk bersamamu menjadi sebuah kenyataan yang direstui oleh Tuhan. Tapi ketakutan selalu lebih besar dalam hati hingga aku hanya berani meletakkan benda itu di atas motor mu yang selalu terparkir di sisitimur lapangan.
Aku masih melihatmu, menanti dengan harap setiap aktifitas di semua sosial media yang kau punya. Hinggga tibalah suatu titik dimana ku buat keputusan untuk maju dan menerima semua konsekuensinya.
Lewat sebait puisi cinta ku utarakan apa yang ada di dalam hati, ku kirim rasa itu lewat pesan di facebook. Satu hari. Dua hari aku menanti. Hingga di hari ketiga ku terima sebait puisi yang teramat indah.
Kamu yang selalu memegang teguh nilai-nilai agama, menghantarkan segelintir rasa sakit dalam kelegaan rasa. Terima kasih akang. Cinta Tuhan akan selalu bersamamu.

Jumat, 08 Agustus 2014

keluarga yang ku pilih



Kita adalah 16 sosok berbeda yang dipertemukan takdir atas nama keluarga, kita mulai kisah kebersamaan dengan sekelumit persoalan tentang apa itu keluarga yang tak hanya ucapan, goyah dan penuh keraguan seperti bayi yang mulai belajar berjalan kita tertatih menyusuri setiap jalan. Tapi langkah demi langkah kecil yang jauh dari kesempurnaan itu mengajarkan kita tentang mengerti dan memahami. Jalan yang kita lalui memang sangat bergelombang dan gelap tapi adanya kita yang saling bergandengan dan menguatkan membuat setiap persoalan yang kita hadapi terasa lebih ringan.

Selayaknya manusia hidup berdampingan maka konflik bukan lagi menjadi hal yang bisa di hindari, tapi kesadaran akan indahnya kebersamaan atas nama keluarga ini terlampau sayang untuk kita nodai dengan sebuah perpecahan.

Kepada kita tak lagi ada kata yang bernama rahasia, hanya kepada kita semua sakit dalam diri masing-masing itu diubah menjadi bahan untuk tertawa bahagia. Kita memang berbeda tapi itulah yang membuat kita merasa lengkap, bersama kita tunjukan pada dunia apa itu keluarga yang tak hanya sekedar ucapan

Air mata itu, yang mengalir dikala perayaan yang menandai unjung dari sebuah perjalan membuat kita sadar bahwa kita telah menjadi satu. Kita begitu takut dan gelisah tentang bagaimana hidup harus berjalan tanpa adanya KITA.  Itulah keluarga yang aku pilih, keluarga yang bernamakan HM SISFO

#devi #dhia #hendi #naufal #fiebry #melisa #luthfan #tica #kakha #yulis #alfi #dewa #satrio #naga #isti #andhika

Kamis, 07 Agustus 2014

Gunung Es



Dia yang dalam diamnya membuat aku terjerat dalam setiap pesonanya, dia yang tak tersentuh oleh hawa. Asik dalam dunianya
Kata ini hanya tentang dia, sesosok laki-laki yang memiliki hati sedingin  gunung es, namun entah mengapa justru itu yang membuatku terjerat dalam lingkar cintanya, aku mungkin bodoh dan tak mau melihat kenyataan yang terpampang jelas disepan mataku bahwa hawa yang lebih cantikpun tak mampu mencairkan gunung es itu terlebih aku, tapi kututup kenyataan yang ada. Aku tetap melihatnya, sosok yang selalu ku tunggu di depan pintu kelas. Pemuda yang membuatku semangat menjalani hari jum’at
Kata mereka kamu suka, kata mereka kamu mau
Tapi di hadapku kamu hanya diam, tapi di hadapku kamu hanya berpaling wajah
Salahkah rambu dalam hati yang hanya punya dua warna, kuning dan merah
Pernah terlintas dalam benakku untuk menyerah dan menguburnya dalam sumur hati terdalam, tapi berat untuk  lepaskan rasa yang temani akhir masa abu-abu
Haruskah aku seperti X yang berterus terang akan hati walau berakhir pahit
Haruskah aku seperti Y yang hanya menyimpan benang merah namun pelan tapi pasti masuk dalam hidup cintanya
Atau haruskah aku seperti Z yang tak peduli pada sekitar dan terjebak dalam masa lalu
Tapi aku hanyalah aku
Yang Cuma mampu menikmati cinta untuk diriku sendiri

#jum'at