Selasa, 24 September 2013

kado terakhir



Aku tulis cerita ini hanya untukmu, persembahan terakhir yang bisa ku berikan padamu. Mungkin kau baru akan tau saat kita telah punya pasangan masing-masing. Atau saat kita telah jadi kakek nenek, atau bahkan kau baru melihatnya saat aku tak ada lagi di dunia ini. Aku mungkin akan menyesal tapi aku tau aku akan lebih menyesal lagi jika tak memberitahukan mu tentang semua ini.
Ini adalah cerita kita, sebuah kisah biasa yang coba ku rangkai sebagai kado terakhir untukmu. Sebuah kisah yang menjadi saksi bahwa aku pernah menyimpan sebuah rasa indah untukmu.
Saat ku tulis lembar ini, tentu aku sedang mengingatmu. Kau adalah inspirasi terbesar dalam setiap coretan yang ku rangkai selama ini. Kau adalah alasan yang membuatku selalu menulis kisah-kisah penuh air mata. Kau tak tau? Tentu saja. Untuk apa kau tau? Tak penting dan tak kan ada arti apa-apa,Hanya akan menambah derita hati ini.
Kisah ini hanya roman biasa dimana dua orang anak manusia di pertemukan dan di pisahkan oleh tadir, takdir yang tak mampu kita cerna secara logika dan hitungan matematis.
Pertemuan tak disengaja, keisengan yang membuatku sempat membencimu, hmm sungguh bagai sebuah senetron tak berkelas yang di putar dalam memori otak ini.
Lima tahun aku menunggu, lima tahun aku selalu berharap akan terukir sebuah cerita antara kita. tapi, semua itu sia-sia, tak berguna, hanya sampah yang terus mengotori sudut hati.
Di hadapan semua orang aku berusaha terlihat biasa, cuek, tak pernah memikirkan perasaan, bahkan bisa di bilang keras. Taukah kau itu karena apa? Itu karenamu. Kau buat aku melakukan semua itu. Karenamu aku mulai belajar apa itu yang namanya mengendalikan perasaan. Berpura-pura tak melihat apa yang ada di sekeliling, tak peduli pada mereka. Taukah kau bagaimana rasanya itu? Rasanya seperti sebotol bir yang di kocok dengan kuatnya, mendesak ingin keluar tapi apadaya jika tutupnya tak bisa di buka.
Di depan mereka aku bilang aku tak lagi memandangmu, benarkah itu? Aku tak tau. Setiap kali aku berusaha untuk mehilangkan semua ini tiba-tiba kau hadir lagi dan membuatku berharap, lalu sedetik kemudian kau hilang meninggalkanku yang terpuruk dalam kesendirian. Aku tau diriku ini sungguh teramat bodoh. Masih saja melihat masa lalu. Apa yang harus aku lakukan? Aku tak tau, aku merasa begitu lemah di hadapanmu.
Mungkin benar jika kau bukanlah takdirku, kisah yang kita lalui begitu panjang dan tak ku lihat muara cinta disana. Tapi Sulit untuk ku ikhlaskan semua ini.
Masihkah kau ingat saat kita bertemu untuk pertama kalinya sore itu, hmm mungkin bukan yang pertama bagimu tapi baru senja itu ku sadari hadirmu. Lalu saat kita ikut jalan sehat bersama. Bagaimana dengan upacara? Taukah kau kenapa saat upacara aku tak pernah baris bersama teman-teman sekelasku, tapi malah menyelinap ke kelas lain. Itu karena aku ingin selalu dekat denganmu. Entah kenapa kelas kita selalu berjauhan dan itu terasa menyebalkan bagiku tapi aku selalu punya cara lain untuk menyiasatinya. Aku yang selalu lewat depan kelasmu saat ke kantin, aku yang berangkat pagi hanya untuk melihatmu memasuki gerbang sekolah, aku yang berlama-lama nongkrong di ruang ujianmu. Aku yang selalu mencoba meperlihatkan diri padamu.
Mungkin saat itu kau menganggap aku ini cuek, tak peduli padamu, tapi jujur saja saat itu aku begitu gugup dan tak tau apa yang harus aku lakukan. Kau yang begitu ringan tanpa beban tapi justru itu malah menimbulkan beban tersendiri dalam hatiku. Aku tak bisa seperti dirimu. Aku takut.
Mungkin saat itu kau marah pada ku, kecewa pada ku. Sebenarnya, aku juga sama, aku marah pada diriku sendiri, menyesali semuanya. Kenapa aku begitu bodoh.
Ingatkah kau saat kita saling berkirim pesan singkat. Dan sampai pada suatu titik saat kau kirim pesan itu, pesan yang menuliskan bahwa kau ingin menjalin hubungan yang lebih. Taukah kau bagaimana aku saat itu. Perasaan ku begitu campur aduk. Senang tentu saja, tapi saat itu aku juga bingung dan ragu.
Aku senang karena akhirnya aku tau bahwa ternyata ada juga orang yang mencintaiku. Bingung, aku bingung bagaimana aku harus bersikap. Ragu, aku ragu untuk menjawab iya atau tidak, aku menyukaimu tentu saja, tapi saat itu aku masih belum yakin bahwa apa yang kurasakan adalah sebuah cinta, aku juga kecewa padamu, kenapa kau bilang hanya lewat pesan? Tak bisakah kau bilang langsung padaku. Meyakinkan aku bahwa apa yang aku rasakan sama seperti yang kau rasakan. Tapi itu tak terjadi. Dan apa rasa yang menang? Ragu. Keraguan itu terlampau besar hingga membuatku memutuskan untuk mengatakan tidak.
Lalu kau bilang pesan itu bukan dari mu, melainkan saudaramu yang pinjam hp mu dan mengirim pesan untuk ku. Aku kecewa, tapi aku juga bersyukur karena aku mengatakan tidak. Tak ku sadari kau begitu tak hanya sekali, tapi tiga kali ku rasa namun tetap aja hati ini masih ragu dan seorang teman berkata padaku “lebih baik tidak dari pada ragu” dan entah darimana datangnya hingga ku terus mengatakan tidak sampai akhirnya kau mulai menjauh dariku. Dan kisah ini hanya akan menjadi kenangan masa remaja





Selamat tinggal senja di lapangan spike