Aku
tulis cerita ini hanya untukmu, persembahan terakhir yang bisa ku berikan
padamu. Mungkin kau baru akan tau saat kita telah punya pasangan masing-masing.
Atau saat kita telah jadi kakek nenek, atau bahkan kau baru melihatnya saat aku
tak ada lagi di dunia ini. Aku mungkin akan menyesal tapi aku tau aku akan
lebih menyesal lagi jika tak memberitahukan mu tentang semua ini.
Ini
adalah cerita kita, sebuah kisah biasa yang coba ku rangkai sebagai kado
terakhir untukmu. Sebuah kisah yang menjadi saksi bahwa aku pernah menyimpan
sebuah rasa indah untukmu.
Saat
ku tulis lembar ini, tentu aku sedang mengingatmu. Kau adalah inspirasi
terbesar dalam setiap coretan yang ku rangkai selama ini. Kau adalah alasan
yang membuatku selalu menulis kisah-kisah penuh air mata. Kau tak tau? Tentu
saja. Untuk apa kau tau? Tak penting dan tak kan ada arti apa-apa,Hanya akan
menambah derita hati ini.
Kisah
ini hanya roman biasa dimana dua orang anak manusia di pertemukan dan di
pisahkan oleh tadir, takdir yang tak mampu kita cerna secara logika dan
hitungan matematis.
Pertemuan
tak disengaja, keisengan yang membuatku sempat membencimu, hmm sungguh bagai
sebuah senetron tak berkelas yang di putar dalam memori otak ini.
Lima
tahun aku menunggu, lima tahun aku selalu berharap akan terukir sebuah cerita
antara kita. tapi, semua itu sia-sia, tak berguna, hanya sampah yang terus
mengotori sudut hati.
Di
hadapan semua orang aku berusaha terlihat biasa, cuek, tak pernah memikirkan
perasaan, bahkan bisa di bilang keras. Taukah kau itu karena apa? Itu karenamu.
Kau buat aku melakukan semua itu. Karenamu aku mulai belajar apa itu yang
namanya mengendalikan perasaan. Berpura-pura tak melihat apa yang ada di
sekeliling, tak peduli pada mereka. Taukah kau bagaimana rasanya itu? Rasanya
seperti sebotol bir yang di kocok dengan kuatnya, mendesak ingin keluar tapi
apadaya jika tutupnya tak bisa di buka.
Di
depan mereka aku bilang aku tak lagi memandangmu, benarkah itu? Aku tak tau.
Setiap kali aku berusaha untuk mehilangkan semua ini tiba-tiba kau hadir lagi
dan membuatku berharap, lalu sedetik kemudian kau hilang meninggalkanku yang
terpuruk dalam kesendirian. Aku tau diriku ini sungguh teramat bodoh. Masih
saja melihat masa lalu. Apa yang harus aku lakukan? Aku tak tau, aku merasa
begitu lemah di hadapanmu.
Mungkin
benar jika kau bukanlah takdirku, kisah yang kita lalui begitu panjang dan tak
ku lihat muara cinta disana. Tapi Sulit untuk ku ikhlaskan semua ini.
Masihkah
kau ingat saat kita bertemu untuk pertama kalinya sore itu, hmm mungkin bukan yang
pertama bagimu tapi baru senja itu ku sadari hadirmu. Lalu saat kita ikut jalan
sehat bersama. Bagaimana dengan upacara? Taukah kau kenapa saat upacara aku tak
pernah baris bersama teman-teman sekelasku, tapi malah menyelinap ke kelas
lain. Itu karena aku ingin selalu dekat denganmu. Entah kenapa kelas kita
selalu berjauhan dan itu terasa menyebalkan bagiku tapi aku selalu punya cara
lain untuk menyiasatinya. Aku yang selalu lewat depan kelasmu saat ke kantin,
aku yang berangkat pagi hanya untuk melihatmu memasuki gerbang sekolah, aku
yang berlama-lama nongkrong di ruang ujianmu. Aku yang selalu mencoba
meperlihatkan diri padamu.
Mungkin
saat itu kau menganggap aku ini cuek, tak peduli padamu, tapi jujur saja saat
itu aku begitu gugup dan tak tau apa yang harus aku lakukan. Kau yang begitu
ringan tanpa beban tapi justru itu malah menimbulkan beban tersendiri dalam
hatiku. Aku tak bisa seperti dirimu. Aku takut.
Mungkin
saat itu kau marah pada ku, kecewa pada ku. Sebenarnya, aku juga sama, aku
marah pada diriku sendiri, menyesali semuanya. Kenapa aku begitu bodoh.
Ingatkah
kau saat kita saling berkirim pesan singkat. Dan sampai pada suatu titik saat
kau kirim pesan itu, pesan yang menuliskan bahwa kau ingin menjalin hubungan
yang lebih. Taukah kau bagaimana aku saat itu. Perasaan ku begitu campur aduk.
Senang tentu saja, tapi saat itu aku juga bingung dan ragu.
Aku
senang karena akhirnya aku tau bahwa ternyata ada juga orang yang mencintaiku.
Bingung, aku bingung bagaimana aku harus bersikap. Ragu, aku ragu untuk
menjawab iya atau tidak, aku menyukaimu tentu saja, tapi saat itu aku masih
belum yakin bahwa apa yang kurasakan adalah sebuah cinta, aku juga kecewa
padamu, kenapa kau bilang hanya lewat pesan? Tak bisakah kau bilang langsung
padaku. Meyakinkan aku bahwa apa yang aku rasakan sama seperti yang kau
rasakan. Tapi itu tak terjadi. Dan apa rasa yang menang? Ragu. Keraguan itu
terlampau besar hingga membuatku memutuskan untuk mengatakan tidak.
Lalu
kau bilang pesan itu bukan dari mu, melainkan saudaramu yang pinjam hp mu dan
mengirim pesan untuk ku. Aku kecewa, tapi aku juga bersyukur karena aku
mengatakan tidak. Tak ku sadari kau begitu tak hanya sekali, tapi tiga kali ku
rasa namun tetap aja hati ini masih ragu dan seorang teman berkata padaku
“lebih baik tidak dari pada ragu” dan entah darimana datangnya hingga ku terus
mengatakan tidak sampai akhirnya kau mulai menjauh dariku. Dan kisah ini hanya
akan menjadi kenangan masa remaja
Selamat
tinggal senja di lapangan spike
Tidak ada komentar:
Posting Komentar