Akulah orang yang selalu
menaruh bunga dan menuliskan cinta di atas meja kerjamu
Akulah orang yang kan
selalu mengawasimu
Menikmati indahmu dari sisi
gelapku
…
Yah
sepenggal lagu dari Sheila on 7 ini memang sangat cocok untuk menggambarkan
keadaanku saat ini. Screat admirer, itulah aku. Seorang stalker sejati dan
mungkin juga seorang pengecut yang hanya bisa mencintai dari balik sisi tembok
yang menjulang.
Tapi
apapun anggapan mereka aku tak peduli. karena aku tau yang aku miliki ini sudah
cukup indah. Aku jatuh cinta. Aku egois, mungkin iya, aku hanya menyimpan cinta
ini sendiri. Hanya milikku, cukup aku yang tau.
Sebagai
seorang secred admirer aku nggak melulu merasa galau dan sakit, adakalanya aku
ngerasa melayang meski itu karena hal yang sangat sepele. misalanya saat dia
untuk pertama kalinya membalas sms-ku, dan aku sangat ingat hari itu, jum’at 7
september 2012 sekitar jam 5 sore. Taukah kalian berapa lama watku yang ku
butuhkan untuk sekedar meng sms dia satu tahun dua bulan dan dua puluh empat
hari, sangat lama kan? Tapi bagiku ini sebanding dengan balasan yang ku terima
meski hanya sepenggal kalimat “ini siapa ya??”
Satu
kalimat yang sangat ampuh membuat jantung ini berpacu layaknya kuda balap. Berlebihan
memang tapi inilah yang aku rasakan. Aku selalu menikmati kehadirannya, tentu
saja secara diam-diam. Senyumnya yang sudah pasti tak di tunjukan padaku, tapi
bagiku itu nggak penting. Karena bisa melihatnya setiap hari, dekat dengannya
tanpa dia sendiri sadari telah mampu membuatku tersenyum selama sisa hari ini.
Tapi
tak selamanya ini berjalan sedemikian mudah dan bahagia, ada saat dimana aku
merasa hari ini kurang lengkap ketika tak ku temukan sosoknya di seantero
kampus. Seperti matahari yang kehilangan sinarnya, begitulah hariku tanpa
tanda-tanda kehadirannya, meski hanya sepintas lalu. Tak terhitung lagi berapa
lama waktu yang ku habiskan dengan duduk di kantin sembari mencuri-curi pandang
saat dia makan siang bersama kawan-kawannya.
Itu
masih belum seberapa jika dibandingkan dengan rasa terbakarnya hati ini saat ku
liat di tertawa bersama cewek lain, saat itu aku sadar. Bahwa aku tak berhak
memiliki rasa cemburu ini, bukan karena dia bukan pacarku tapi karena aku
sendiri yang tak berani untuk bilang padanya bagaimana perasaan ku.
Bagaimana
mungkin aku tau perasaannya jika bicara padanyapun aku tak berani
Terkadang
aku lelah seperti ini, aku ingin seperti mereka yang bisa mencintai dan di
cintai secara terbuka dan apa adanya. Mereka yang bisa dengan leluasa
mengekspresikan rasa hatinya. Tapi sekali lagi aku bukan mereka. Aku tak bisa
seperti mereka, dan tak akan pernah bisa.
Mungkin
selamanya aku hanya bisa memujanya, menikmati indahnya dari sisiku...